Rabu, 04 Juli 2012

Segera Terbit Aturan Absensi Guru

Segera Terbit Aturan Absensi Guru
JAKARTA - Untuk mengontrol dan mengukur kinerja para guru di seluruh Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tahun ini akan segera menerbitkan aturan guna mendongkrak kinerja guru. Salah satunya, memeriksa absensi atau kehadiran guru di sekolah.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengungkapkan, selama ini belum ada aturan yang mengatur dan mengukur kinerja guru. Sehingga dirasakan tidak seimbang dengan kesejahteraan guru yang diberikan oleh pemerintah.
"Ini saatnya kinerja guru harus diukur dan dilihat. Apakah kesejahteraan guru sudah relatif baik apa berdampak pada kinerja guru. Bagaimana cara tau kinerjanya baik atau tidak. Terus terang sampai sekarang belum ada pengukuran kinerja guru secara utuh. Sekarang saya siapkan instrumen untuk mengukur kinerja dan akan keluar tahun ini juga," ungkap Nuh saat rapat kerja dengan Komisi X DPR RI, Jakarta, Rabu (6/6) malam.
Nuh menjelaskan, bukti kehadiran guru untuk mengajar di sekolah itu sangat penting. Menurutnya, hal ini akan berkaitan dengan kualitas pendidikan anak didik di sekolah.
"Kalau guru itu absen tidak ada yang mengajar, maka bisa jadi mata pelajaran yang harusnya sudah selesai materinya, akhirnya tidak dibahas. Akibatnya ketika ujian, siswa tidak paham tentang materi tersebut karena belum diajarkan," tukasnya.
Cara pengukuran kinerja guru lainnya, adalah dengan melihat berapa banyak modul atau bahan ajar yang dituliskan oleh guru untuk para siswa sebagai pendukung proses belajar mengajar di kelas. Selain itu, berapa kali guru melakukan pendampingan terhadap murid yang akan menghadapi ujian.
"Semua adalah bagian dari pengukuran kinerja guru. Kalau tidak begitu, pemerintah akan dinilai tidak fair dalam memberikan kesejehteraan bagi guru," imbuhnya.
Mantan Rektor ITS ini menambahkan, untuk memastikan kehadiran atau absensi guru itu tidak harus menggunakan finger print. Bisa dilakukan dengan cara konfirmasi kepada kepala sekolah hingga ke siswa-siswi di sekolah tersebut. "Kalau kinerjanya tidak menunjukkan prestasi maka akan berlaku insentif dan disinsentif," katanya.
Sumber: jpnn.com

Cegah Anak Jadi Perokok, Ini Dia Caranya

Cegah Anak Jadi Perokok, Ini Dia Caranya

Saat ini fenomena anak merokok kian mencemaskan. Menurut data dari Lembaga Demografi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), jumlah perokok anak usia 10-14 tahun meningkat enam kali lipat. Bila pada tahun 1995, jumlahnya mencapai 71.100 orang, maka angka itu meningkat menjadi 426.200 pada 2010.

"Bahkan sekarang kasus perokok pada anak sudah merambah usia balita, ada sekitar 20 kasus baby smoker yang kami terima. Paling kecil usia 11 bulan sudah mulai merokok. Data sebenarnya mungkin lebih dari 20 kasus," ungkap Arist Merdeka Sirait, ketua Komnas Perlindungan Anak.

Agar mencegah kemungkinan anak akan menjadi perokok di usia dini, berikut adalah tips dari Seto Mulyadi:

Jangan jadi contoh yang buruk bagi anak. Anak adalah peniru terbaik. Ia akan mengikuti tingkah pola orang tuanya, ia akan mengikuti orang tuanya merokok seperti ia mengikuti orang tuanya berbicara.

Merokok jangan di depan anak. Merokok ditempat tertutup. Misalnya di kebun, pos satpam, atau tempat yang tidak terlihat anak.

Katakan pada anak rokok itu berbahaya, rokok membuat sakit, rokok itu mematikan dan rokok itu narkoba. Jelaskan bahaya merokok, sehingga anak mengerti apa itu rokok dan mengetahui bahayanya.

Menjelaskan bahaya merokok bisa melalui lagu. Ini akan lebih mudah ditangkap oleh anak. Komnas Perlindungan Anak sedang mempersiapkan lagu khusus untuk anak tentang Bahaya Merokok.

Selain dengan lagu, untuk menjelaskan bahaya merokok kepada anak-anak bisa dengan drama, teater atau festival musik. Bisa juga dengan menunjukkan video tentang bahaya merokok.

Buatlah poster bahaya merokok, ditempel di rumah, di sekolah atau tempat-tempat yang bisa dilihat anak.

Lakukan pelatihan ditujukkan bagi guru dan orang tua untuk merubah persepsi keliru tentang rokok. Persepsi keliru bahwa dengan rokok laki-laki terlihat keren, petualang, macho atau lainnya. Sedangkan perempuan dengan rokok akan terlihat langsing, glamour, mandiri dan modern.

Jika anak sudah terlanjur coba-coba merokok dan menjadi perokok aktif, segera hubungi dokter atau psikolog terdekat.

Jika orang tua atau ayahnya tidak bisa diajak kompromi, ia tetap merokok didepan anaknya, laporkan ke ketua RT atau polisi. Karena ini merupakan bentuk pelanggaran hak anak.

Hindarkan anak dari iklan rokok. Sebaiknya iklan rokok mencantumkan juga gambar berisi bahaya merokok pada bungkus, jangan hanya peringatan kecil yang tertulis pada bungkus rokok.

Sumber: republika.co.id


Bosan Mendongeng untuk Si Kecil? Ini Dia Solusinya

Bosan Mendongeng untuk Si Kecil? Ini Dia Solusinya

Bercerita adalah salah satu metode pembelajaran yang paling efektif pada anak usia dini. Tingkah laku dan moral anak dapat dibentuk melalui cerita-cerita yang kita karang sendiri berkenaan dengan diri anak. Namun, tak urung ada waktunya orangtua pun terkadang merasa lelah dan bosan melakoni aktivitas ini setiap hari.

Bagi Elly Risman Musa, seorang pakar parenting, inilah perlunya kerja sama yang baik antara ayah dan ibu. Jika pada malam hari Ibu lelah sekali, Ibu dapat bekerja sama dengan Ayah. Minta tolong pada Ayah untuk menjaga anak-anak pada saat Ibu mengantuk.

''Tidurlah 30 menit dan minta Ayah untuk menggantikan posisi Ibu bercerita atau menemani mereka belajar,'' ujar Elly dalam satu konsultasi.

Seharian bekerja di kantor atau seharian bekerja mengurus anak dan rumah memang melelahkan. ''Jika ada komunikasi dan niat lurus dalam mengasuh anak, Ayah dan Ibu harus saling mengisi dan membantu dalam pengasuhan,'' lanjutnya.

Menurut Elly, ada baiknya untuk membuat jadwal bercerita antara Ayah dan Ibu. Kapan Ayah pulang malam dan tidak dapat terlibat. Mungkin Ayah dapat giliran pada hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Hal ini akan mengeratkan hubungan antara Ayah dan anak anak. Anak juga mendapat variasi cerita dan wawasan yang berbeda.

Cerita-cerita Ayah mungkin lebih heroik karena Ayah lebih suka petualangan. Selain itu jenis buku yang dibaca oleh Ibu dan Ayah berbeda. ''Dengan demikian anak akan memiliki berbagai kemampuan ekspresi macam-macam emosi dari cerita yang diberikan,'' papar Elly.

Sumber: Republika.co.id


Perlukah Mengajarkan Calistung di Usia Dini?

Perlukah Mengajarkan Calistung di Usia Dini?
Tak sedikit orangtua yang bangga dengan kemampuan balitanya dalam membaca, menulis dan berhitung (calistung). Mereka yakin anak yang diajarkan kemampuan calistung sejak dini lebih pintar dari anak seusianya.

Di tambah lagi, kini semakin banyak sekolah dasar yang mensyaratkan calon siswanya punya kemampuan calistung, kendati hal itu sebenarnya dilarang. Karena khawatir anaknya tidak bisa masuk ke SD favorit, para orangtua pun berlomba-lomba mengajari anaknya calistung, antara lain dengan memilih playgroup atau TK yang menjamin balita mahir calistung sebagai persiapan masuk SD.

Apabila minat membaca dan menulis anak sudah muncul sejak dini mungkin proses mengajarkan calistung pada anak menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Namun faktanya kebanyakan anak baru benar-benar siap belajar membaca dan menulis di atas usia 5 tahun.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal, Kemdikbud, Lydia Freyani Hawadi, seperti dikutip Kompas (12/1/12) pernah mengingatkan bahwa jenjang PAUD seharusnya tidak membebani anak dengan kemampuan calistung. Siswa baru boleh diajar calistung di SD.

Metode pendekatan di PAUD, kata Lydia, tidak didasarkan pada aspek kognitif, tetapi pada aspek motorik. Karena perkembangan anak usia 0-5 tahun masih terfokus pada aspek motorik, seharusnya metode pembelajarannya lebih menekankan pengembangan soft skill dengan cara bermain.

Lagipula, masa balita adalah masanya bermain dan bermain. Memaksakan anak melakukan sesuatu yang sebenarnya ia belum siap justru akan memberikan pengalaman yang tidak menyenangkan, bahkan akhirnya muncul penolakan.

"Banyak orangtua yang memilih PAUD bukan yang berdampak bagus bagi perkembangan buah hatinya, tapi PAUD yang hasilnya dapat membanggakan orangtua. Yang terjadi, anak pun menjadi stres di usia dini," kata Paulin Sudwikatmono, principal KindyROO, sebuah sekolah bagi anak usia dini.

Ia menambahkan, karena terlalu fokus untuk diajarkan calistung pada usia yang sangat dini, anak-anak tidak berkembang secara alami sebagaimana mestinya karena di masa yang instan ini anak-anak dipacu untuk belajar dan tidak diberikan kesempatan untuk membangun fondasi yang kuat dan berkembang secara alami.

"Sebagai contoh, banyak orang tua yang merasa bahwa anak-anak tidak perlu merangkak lama dan memburu-burukan anak untuk berjalan. Atau juga anak tidak perlu distimulasi motorik halusnya seperti menstimulasi keterampilan tangan dan langsung mengajar anak untuk bisa menulis," katanya.

Akibatnya, ada anak yang sudah berumur 6 tahun tetapi anak tersebut tidak dapat menulis dengan baik atau tidak dapat menulis dalam jangka waktu yang lama karena tangan cepat letih.

Kemampuan merangkak pada anak sebenarnya juga memberikan stimulasi yang banyak terhadap anak tersebut, seperti menstimulasi konsentrasi, mata, koordinasi dan kekuatan otot tubuh. Tetapi karena diburu-buru untuk berjalan cepat dengan cara dititah atau menggunakan alat bantu berjalan (walker), anak-anak tersebut kehilangan kesempatan untuk distimulasi secara benar.

"Orang tua juga berpandangan bahwa anak-anak tidak perlu bermain lama. Jika anak terstimulasi dengan baik dan benar pada saat usia dini dan diberikan kesempatan untuk bermain, anak tersebut tidak akan menemui hambatan dalam belajar di kemudian hari dan anak tersebut distimulasi untuk menjadi lebih kreatif," paparnya.

Bermain yang terarah merupakan fondasi yang penting untuk menunjang kesempurnaan dalam kemampuan belajar di kemudian hari.

"Di KindyROO, kami memberikan arahan dan pengalaman kepada orang tua bagaimana cara menstimulasi anak dengan cara yang baik dan benar untuk menghindari kesulitan belajar di kemudian hari pada saaat mereka masuk usia sekolah," ujar Paulin.

Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, KindyROO mendidik orang tua dan anak agar setiap fase pekembangan dalam anak harus dilalui dan dikuasai. Anak tidak dipaksa secara instant untuk melakukan hal-hal yang tidak cocok untuk usianya.

Anak-anak juga harus diberikan waktu untuk berkembang secara alami dan diberikan waktu yang banyak untuk bermain secara terarah. Yang paling penting adalah anak-anak diberikan fondasi yang kuat dan otak distimulasi secara maksimal agar anak-anak siap menghadapi tantangan pada saat sekolah nanti.

Sumber: kompas.com

Para Ayah Berperan Bentuk Karakter Gigih dan Tekun Anak

Para Ayah Berperan Bentuk Karakter Gigih dan Tekun Anak
Peran ayah sangat penting dalam mengembangkan kegigihan dan ketekunan dalam diri anak. Karakter tersebut menjadi landasan bagi anak dalam menghadapi tekanan kehidupan dan berhasil dalam hidupnya.

Studi baru oleh para peneliti dari School of Family Life di Brigham Young University menunjukkan, ayah mempu nyai posisi yang unik dalam me nolong anak mereka me ngembangkan karakter gigih dan tekun. Riset para peneliti BYU itu diterbitkan dalam jurnal Early Adolescence, 15 Juni 2012.

Profesor Laura Padilla-Walker dan Randal Day mencapai kesimpulan itu setelah mengikuti perkembangan 325 keluarga selama beberapa tahun. Seiring berjalann ya waktu, sifat gigih diperoleh anak dari para ayah. Sikap ini berdampak postif yakni lebih tinggi nya keterlibatan anak di sekolah dan tingkat kenakalan lebih rendah.

"Dalam penelitian , kami bertanya apakah anak mampu bertekun pada sebuah tugas, menyelesaikan sebuah proyek, serta membuat tujuan dan menyelesaikannya. Kemampuan anak untuk bertekun dan gigih menjadi landasan penting bagi anak untuk berkembang, maju, dan mampu menghadapi stres serta tekanan kehidupan," ujar Day seperti dikutip ScienceDaily. Dalam studi itu juga disimpulkan sifat gigih dan tekun dapat diajarkan. Kuncinya ialah peran ayah dalam mempraktikkan apa yang disebut pengasuhan tegas dan berwibawa , tetapi model pengasuhan itu jangan disamakan dengan pengasuhan yang otoriter. Sama sekali berbeda.

Beberapa hal dalam pengasuhan tegas berwibawa itu antara lain anak mendapatkan kehagatan dan kasih sayang dari ayah, penekanan terhadap akuntabilitas dan alasan dari setiap aturan yang dibuat orangtua, serta anak diberikan otonomi yang wajar.

Sekitar 52 persen ayah dalam studi itu yang melaksanakan model pengasuhan itu, anak-anaknya dapat mengembangkan kegigihan dan ketekunan.Studi ini meneli ti anak-anak umur 11-14 tahun. Kedua peneliti itu menyarankan, Para ayah harus terus berusaha lebih terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka dan melakukan interaksi yang berkualitas , walaupun secara kuantitas terbatas, ujar Padilla-Walker.

Sumber: ScienceDaily, kompas.com

Camkan, Anak Agresif dan Nakal Karena Meniru Orangtuanya!

Camkan, Anak Agresif dan Nakal Karena Meniru Orangtuanya!

Hukuman fisik yang dilakukan orangtua pada anak seperti pukulan meski dengan niat membangun sikap disiplin sebaiknya tidak dilakukan. Perilaku tersebut justru kontra produktif karena dapat membentuk sikap agresif seorang anak.

"Saya pikir sangat penting bagi orangtua memahami bahwa meskipun hukuman fisik diperlukan untuk mendidik anak, ada banyak efek samping yang nantinya dapat berkembang untuk jangka panjang" kata Joan Durrant, psikolog anak di Clinical Psychologist di Family Social Sciences, Universitas Manitoba, Kanada.

Semakin sering seorang anak melihat orangtua menanggapi konflik dengan memukul, kata Durrant, makin besar kemungkinan anak akan melakukan hal yang sama ketika menghadapi konflik mereka sendiri.

Pada saat tumbuh besar, banyak anak bersikap agresif dan menjadi pemberontak, sayang banyak orangtua tidak paham mengapa anak-anaknya demikian.

Menurut Durrant ada faktor utama mengapa anak berperilaku demikian. "Orangtua cenderung menyalahkan anak saat mereka tumbuh menjadi pemberontak, padahal anak-anak sebenarnya hanya melakukan hal-hal yang mereka anggap normal bagi perkembangan mereka dengan menyontoh lingkungan sekitar termasuk orangtuanya".

Sebaiknya, orangtua mendidik disiplin pada anak melalui hal positif, pendekatan psikologis serta tanpa kekerasan, tegas Durrant.

Sumber: sehatnews.com

Informasi Sekolah

Nama : SDN Mekarlaksana
NPSN : 20205184
Tipe : Negeri
Alamat : Jl. Garung No.5 Cilengkrang
Propinsi : Jawa Barat
Kab/Ktmdy : Kab. Bandung
Jenjang : SD
 Kontak  :
Telepon  :
Fax   :
e-mail : sdnmekarlaksana@yahoo.co.id